BSC5BSrlGSO8GUd8BSd5GUY5Gd==

Umat Islam Didorong Manfaatkan AI untuk Ibadah agar Tak Tertinggal Perkembangan Zaman

Umat Islam Didorong Manfaatkan AI untuk Ibadah agar Tak Tertinggal Perkembangan Zaman
Ilustrasi. Umat Islam didorong manfaatkan AI untuk ibadah agar tak tertinggal perkembangan zaman. (Dok. Ist)

JATENGTERKINI.ID — Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini semakin lekat dengan kehidupan manusia, termasuk dalam aktivitas keagamaan umat Islam.

Teknologi ini bahkan telah digunakan secara luas untuk menunjang ibadah hingga pengambilan keputusan keislaman.

Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhammad Rofiq Muzakkir, mencontohkan pemanfaatan AI yang sudah diterapkan secara nyata di Masjidil Haram.

Dengan dukungan teknologi tersebut, jamaah dapat memperoleh berbagai informasi penting, mulai dari petunjuk arah, tingkat kepadatan jamaah, hingga layanan pengantaran Al-Qur’an dan air minum.

Tak hanya itu, AI juga mulai difungsikan sebagai asisten digital dalam membantu menyimak hafalan Al-Qur’an, mengoreksi bacaan, serta membimbing tartil, terutama ketika sulit menemukan pendamping yang bisa menyimak secara langsung.

“AI itu sudah sangat dekat dengan kita dan nyata-nyata membantu ibadah,” ujar Rofiq dalam Pengajian Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Jumat (23/1/2026) lalu, dikutip dari laman resmi Muhammadiyah.

Digunakan dalam penetapan kalender Hijriah

Rofiq menambahkan, pemanfaatan AI juga telah diterapkan di lingkungan Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah, khususnya dalam pengembangan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

Muhammadiyah, kata dia, telah mengembangkan aplikasi HisabMu yang proses penyusunannya melibatkan teknologi AI.

Menurutnya, tanpa bantuan AI, penentuan awal bulan dengan kriteria hisab yang semakin kompleks akan membutuhkan waktu yang jauh lebih lama dan kurang efisien.

Melihat berbagai manfaat tersebut, Rofiq mengajak umat Islam, khususnya warga Muhammadiyah, untuk bersikap cerdas dan bijak dalam menyikapi perkembangan teknologi kecerdasan buatan.

Menolak AI bukan pilihan

Ia mengakui, dalam khazanah pemikiran Islam terdapat pandangan konservatif yang mengkritisi modernisasi dan teknologi.

Beberapa pemikir seperti Seyyed Hossein Nasr dan Wael Hallaq kerap mengingatkan dampak negatif teknologi terhadap nalar, pola pikir, dan daya kritis manusia.

Namun demikian, Rofiq menegaskan bahwa bagi Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid dan Islam berkemajuan, menolak AI bukanlah opsi yang realistis.

“There is no point of return. Kita tidak bisa lari ke belakang,” tegasnya.

Ia menilai, sikap menolak AI justru bertentangan dengan teologi Islam, semangat Al-Qur’an dan sunah, serta sejarah panjang peradaban Islam yang adaptif terhadap ilmu pengetahuan.

Belajar dari sejarah

Rofiq juga mengingatkan umat Islam agar tidak mengulang kesalahan sejarah, seperti keterlambatan dunia Islam dalam menerima teknologi mesin cetak.

Penolakan percetakan pada masa Kekhalifahan Utsmaniyah, menurutnya, membuat umat Islam tertinggal jauh dari Barat yang justru melesat lewat reformasi gereja, pencerahan, dan revolusi industri.

Dunia Islam baru mengenal percetakan secara luas pada akhir abad ke-19, saat kesenjangan peradaban sudah sangat lebar.

“Kalau kita terlalu banyak ragu dan menunda, dampaknya serius bagi kita sendiri,” ujarnya.

Tiga kaidah fikih menyikapi AI

Dalam menyikapi AI, Rofiq memaparkan tiga kaidah fikih utama.

Pertama, al-ashlu fil manafi’ al-ibahah, yakni hukum asal segala sesuatu yang membawa manfaat adalah boleh.

Kedua, lil wasail ahkamul maqasid, bahwa hukum sarana bergantung pada tujuan penggunaannya.

Ketiga, ad-dhararu yuzal, yaitu setiap kemudaratan dan kezaliman harus dihilangkan.

“AI itu netral. Yang menentukan adalah bagaimana kita mengarahkannya, memanfaatkannya, dan sekaligus memperbaiki kelemahan-kelemahannya,” tutur Rofiq.

maxslot88

Ketik kata kunci lalu Enter

close